Sabtu, 03 November 2018

Simbol dan Makna


Assalamu’alaikum. Wr.Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua. Semoga tetap dalam lindungan Allah swt, maraknya polemik yang di sekitar kita, konflik agama yang kian memanas seakan-akan bagai api yang berkobaran. Terus menerus berita-berita bermunculan, sehingga menjadikan delima amat berat dimata masyarakat. Adanya hal yang semacam itu mahasiswa Perbandingan Agama IAIN kediri mengadakan agenda rutin yang bertajuk Forum Lingkar Study Agama dan Budaya dengan tema pembahasan “Delima Simbol dan Makna” dengan pemantik Mahasiswa Perbandingan Agama yakni Ilham Akbar Habibie, sekaligus di dampingi oleh Bapak Ridho Afifudin, dosen Ushuluddin dan Ilmu Sosial dan di ikuti oleh seluruh mahasiswa IAIN Kediri, bertempat di Student Center Lt. 1.
Salam sapa semua saudaraku setanah air, dalam satu ideologi yang sama yakni berideologi PANCASILA. Meski dalam masyarakat yang prular baik segi agama, ras, suku, budaya maupun bahasa yang berbeda tapi, tetap dibawah kibaran sang merah putih tercinta. Hal ini Indonesia terkenal sebagai negara Multikultural, jangan sampai kekuatan kita dalam membangun sebuah kerukunan dan kebersamaan dalam bernegara akan terpecah dengan adanya hal yang begitu sangat kecil.
Di era yang begitu canggih ini sebuah kemajuan teknologi semakin berkembang, sebuah teknologi informasi yang sangat luar biasa. Dalam hitungan sekejap informasi dapat tersebar luas di dunia maya. Tak pandang itu berupa berita positif ataupun negatif, Semua lapisan masyarakat dapat melihatnya. Hal yang semacam inilah akan dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang ingin menghancurkan kesatuan Indonesia secara halus. Berita hoax bertebaran kemana-mana, hasut sana hasut sini, share sana share sini. Dalam waktu sekejap dengan mudanya berita tersebut menyebar luas. Sehingga minimbulkan suatu polemik dimata masyarakat awam khususnya. Mereka seakan-akan diombang-ambingkan berita yang begitu banyak, terjadinya delima yang amat meresahkan masyarakat.
Sudah saatnya sebagai golongan akademisi peka akan adanya polemik yang sedang dialami masyarakat saat ini. Jangan sampai sebagai akademisi kita hanya duduk di kelas mendengarkan dosen ceramah dan sibuk dengan akan adanya tugas perkulihan. Masyarakat sedang menanti sebuah gerakan kita sebagai mahasiswa untuk menyikapi isu yang terus beredar, yang tujuannya untuk minimbulkan sebuah perpecahan. Apalagi saat ini sedang memanasnya dunia politik, demi memperoleh suara terbanyak mereka rela lakukan berbagai cara. Timbulah suatu konflik yang terus-menerus, baik dalam dunia maya maupun nyata, mirisnya lagi konflik yang terjadi akan menyangkut-pautkan dengan agama, suku maupun ras.
Jangan sampai dengan adanya informasi yang terus bermunculan dapat merangsang masyrakat berbuat arogan tanpa menggali lebih dalam informasi tersebut. Teringat dengan kejadian dimasa lampau, masa kerajaan-kerajaan terbesar maupun zaman penjajahan yang pernah ada di Indonesia. Sumber awal sebauh kehancuran atau perpecahan itu karena adanya suatu gesekan yang timbul dari pihak yang ingin mengadu domba. Menyebarkan berita palsu, sehingga membakar emosi mereka sehingga apa yang terjadi, peperangan, permusuhan dan pemberontakan yang terus terjadi.
Terkait isu yang sekarang masih hangat-hangatnya ditelinga yakni pembakaran bendera yang berlafatkan Laa illa Ha il Laallah oleh salah satu ormas Islam dalam rangka hari santri di daerah Garut Jawa Tengah. Hal ini menimbulkan konflik yang begitu memanas, berbicara tentang bendera yang berlafatkan Laa Illa Ha illa Laallah teringat dengan simbol salah satu ormas Islam yang kemarin sempat ramai, karena ediologi yang dibawanya sangat bertolak belakang dengan negara Indonesia sebut saja HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Secara garis besar mereka ingin mendirikan negara khilafah. Secara spontan banyak dari kalangan masyrakat atau tokoh-tokoh Islam sangat menentang keras dengan adanya HTI di Indonesia. Menyikapi hal semacam itu pemerintah langsung mengambil tindakan, yang mana pemerintah secara sah membubarkan HTI, namun yang perlu dimengerti secara resmi dibubarkan adalah BHP nya (Badan Hukum Perkumpulan), bukan ideologinya. Jadi tidak di pungkiri lagi jika banyak bertebaran sekolompok pengikut HTI di sekitar masyarakat dan bisa dipastikan keberadaanya tidak mudah untuk dikenali.
Menyingkapi permasahalan ini, sebagai penegak hukum pemerintah menetapkan sekelompok orang yang membawa bendera tauhid dan yang membakar bendera (banser) tetap menjalani proses hukum. Untuk mengatasi suatu tindakan yang tidak di harapkan, karena menurut hukum negara, warga negara berhak menyampaikan segala aspirasinya. Jadi perlunya sikap adil dalam menjaga ketentraman.
Teringat pesan yang di sampaikan oleh Gus Mus, mengapa kita mempersoalkan suatu hal yang kecil, padahal banyak hal yang besar perlu kita lakukan untuk kebesaran Nahdlatu Ulama’. Jangan sampai persolan kecil menjadikan sebuah perpecahan antara sesama muslim, ingat Almuslimu Ahul Muslim (setiap muslim satu dengan yang lainnya adalah saudara).
Perlunya sebagai masyarakat yang pintar dan bijak dapat menyikapi kejadian semacam ini lebih memuncul sifat apa yang sudah dicontohkan oleh beliau baginda nabi Muhammad SAW, sebagai pelopor akhlak mulia. Tidak mengedepankan rasa ego apalagi rasa fundementalis, itu sangat tidak cocok dengan apa yang sudah diajarkan oleh beliau. Terbiasa menyaring segala informasi yang ada, tidak mudah terbawa oleh suasana yang memanas di medsos dan yang terpenting lagi, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW. Dari Abi Hurairah r.a., bahwasannya Rasulullah SAW, bersabda. “Barang siapa beriman pada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah berkata baik atau diam saja. Barang siapa beriman pada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah menghormati tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah hormati tamunya.”diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim.
Islam merupakan agama yang harmonis, penuh dengan kelembutan, kedamain tidak ada kata-kata Islam sebagai agama yang fundamental atau agama teroris dan lain sebagainya. Perlunya pemahaman lagi mengenahi hal itu. Sebagaimana hadits rasulullah saw. Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “termasuk (bukti) kebaikan Islam seseorang ialah, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadis Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lain-lainnya,)
Itulah sedikit refleksi Forum diskusi Lingkar Study Agama dan Budaya atau GSPA (Gerakan Sadar PA) yang bertemakan Delima Simbol dan Makna. Saatnya kita bijak dalam menyikapi segala hal. Sekian dari penulis, kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu’alaikum.Wr.Wb.


Mohamad Saifudin, 03/11/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar