Salam sejahtera bagi kita
semua. Semoga tetap dalam lindungan Allah swt, maraknya polemik yang di sekitar
kita, konflik agama yang kian memanas seakan-akan bagai api yang berkobaran.
Terus menerus berita-berita bermunculan, sehingga menjadikan delima amat berat
dimata masyarakat. Adanya hal yang semacam itu mahasiswa Perbandingan Agama
IAIN kediri mengadakan agenda rutin yang bertajuk Forum Lingkar Study Agama dan
Budaya dengan tema pembahasan “Delima Simbol dan Makna” dengan pemantik
Mahasiswa Perbandingan Agama yakni Ilham Akbar Habibie, sekaligus di dampingi
oleh Bapak Ridho Afifudin, dosen Ushuluddin dan Ilmu Sosial dan di ikuti oleh
seluruh mahasiswa IAIN Kediri, bertempat di Student Center Lt. 1.
Salam sapa semua saudaraku
setanah air, dalam satu ideologi yang sama yakni berideologi PANCASILA. Meski
dalam masyarakat yang prular baik segi agama, ras, suku, budaya maupun bahasa
yang berbeda tapi, tetap dibawah kibaran sang merah putih tercinta. Hal ini
Indonesia terkenal sebagai negara Multikultural, jangan sampai kekuatan kita
dalam membangun sebuah kerukunan dan kebersamaan dalam bernegara akan terpecah
dengan adanya hal yang begitu sangat kecil.
Di era yang begitu canggih ini
sebuah kemajuan teknologi semakin berkembang, sebuah teknologi informasi yang
sangat luar biasa. Dalam hitungan sekejap informasi dapat tersebar luas di
dunia maya. Tak pandang itu berupa berita positif ataupun negatif, Semua
lapisan masyarakat dapat melihatnya. Hal yang semacam inilah akan dimanfaatkan
oleh sekelompok orang yang ingin menghancurkan kesatuan Indonesia secara halus.
Berita hoax bertebaran kemana-mana, hasut sana hasut sini, share sana share
sini. Dalam waktu sekejap dengan mudanya berita tersebut menyebar luas.
Sehingga minimbulkan suatu polemik dimata masyarakat awam khususnya. Mereka
seakan-akan diombang-ambingkan berita yang begitu banyak, terjadinya delima
yang amat meresahkan masyarakat.
Sudah saatnya sebagai golongan
akademisi peka akan adanya polemik yang sedang dialami masyarakat saat ini.
Jangan sampai sebagai akademisi kita hanya duduk di kelas mendengarkan dosen
ceramah dan sibuk dengan akan adanya tugas perkulihan. Masyarakat sedang
menanti sebuah gerakan kita sebagai mahasiswa untuk menyikapi isu yang terus
beredar, yang tujuannya untuk minimbulkan sebuah perpecahan. Apalagi saat ini
sedang memanasnya dunia politik, demi memperoleh suara terbanyak mereka rela
lakukan berbagai cara. Timbulah suatu konflik yang terus-menerus, baik dalam
dunia maya maupun nyata, mirisnya lagi konflik yang terjadi akan
menyangkut-pautkan dengan agama, suku maupun ras.
Jangan sampai dengan adanya
informasi yang terus bermunculan dapat merangsang masyrakat berbuat arogan
tanpa menggali lebih dalam informasi tersebut. Teringat dengan kejadian dimasa
lampau, masa kerajaan-kerajaan terbesar maupun zaman penjajahan yang pernah ada
di Indonesia. Sumber awal sebauh kehancuran atau perpecahan itu karena adanya
suatu gesekan yang timbul dari pihak yang ingin mengadu domba. Menyebarkan
berita palsu, sehingga membakar emosi mereka sehingga apa yang terjadi,
peperangan, permusuhan dan pemberontakan yang terus terjadi.
Terkait isu yang sekarang masih
hangat-hangatnya ditelinga yakni pembakaran bendera yang berlafatkan Laa illa Ha il Laallah oleh salah satu
ormas Islam dalam rangka hari santri di daerah Garut Jawa Tengah. Hal ini
menimbulkan konflik yang begitu memanas, berbicara tentang bendera yang
berlafatkan Laa Illa Ha illa Laallah
teringat dengan simbol salah satu ormas Islam yang kemarin sempat ramai, karena
ediologi yang dibawanya sangat bertolak belakang dengan negara Indonesia sebut
saja HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Secara garis besar mereka ingin mendirikan
negara khilafah. Secara spontan banyak dari kalangan masyrakat atau tokoh-tokoh
Islam sangat menentang keras dengan adanya HTI di Indonesia. Menyikapi hal
semacam itu pemerintah langsung mengambil tindakan, yang mana pemerintah secara
sah membubarkan HTI, namun yang perlu dimengerti secara resmi dibubarkan adalah
BHP nya (Badan Hukum Perkumpulan), bukan ideologinya. Jadi tidak di pungkiri
lagi jika banyak bertebaran sekolompok pengikut HTI di sekitar masyarakat dan
bisa dipastikan keberadaanya tidak mudah untuk dikenali.
Menyingkapi permasahalan ini,
sebagai penegak hukum pemerintah menetapkan sekelompok orang yang membawa
bendera tauhid dan yang membakar bendera (banser) tetap menjalani proses hukum.
Untuk mengatasi suatu tindakan yang tidak di harapkan, karena menurut hukum
negara, warga negara berhak menyampaikan segala aspirasinya. Jadi perlunya
sikap adil dalam menjaga ketentraman.
Teringat pesan yang di
sampaikan oleh Gus Mus, mengapa kita mempersoalkan suatu hal yang kecil,
padahal banyak hal yang besar perlu kita lakukan untuk kebesaran Nahdlatu
Ulama’. Jangan sampai persolan kecil menjadikan sebuah perpecahan antara sesama
muslim, ingat Almuslimu Ahul Muslim (setiap muslim satu dengan yang
lainnya adalah saudara).
Perlunya sebagai masyarakat
yang pintar dan bijak dapat menyikapi kejadian semacam ini lebih memuncul sifat
apa yang sudah dicontohkan oleh beliau baginda nabi Muhammad SAW, sebagai
pelopor akhlak mulia. Tidak mengedepankan rasa ego apalagi rasa fundementalis,
itu sangat tidak cocok dengan apa yang sudah diajarkan oleh beliau. Terbiasa
menyaring segala informasi yang ada, tidak mudah terbawa oleh suasana yang
memanas di medsos dan yang terpenting lagi, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad
SAW. Dari Abi Hurairah r.a., bahwasannya Rasulullah SAW, bersabda. “Barang siapa beriman pada Allah dan hari
kemudian, maka hendaklah berkata baik atau diam saja. Barang siapa beriman pada
Allah dan hari kemudian, maka hendaklah menghormati tetangganya. Dan barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah hormati
tamunya.”diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim.
Islam merupakan agama yang
harmonis, penuh dengan kelembutan, kedamain tidak ada kata-kata Islam sebagai
agama yang fundamental atau agama teroris dan lain sebagainya. Perlunya
pemahaman lagi mengenahi hal itu. Sebagaimana hadits rasulullah saw. Dari Abu Hurairah
r.a., dia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “termasuk (bukti) kebaikan Islam seseorang ialah, dia meninggalkan sesuatu
yang tidak berguna baginya.” (Hadis Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan
lain-lainnya,)
Itulah sedikit refleksi Forum
diskusi Lingkar Study Agama dan Budaya atau GSPA (Gerakan Sadar PA) yang
bertemakan Delima Simbol dan Makna. Saatnya kita bijak dalam menyikapi segala
hal. Sekian dari penulis, kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu’alaikum.Wr.Wb.
Mohamad Saifudin, 03/11/2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar